LAGU SALUNI BUNG HATTA

Bagikan

Dari Persaudaraan, Gagasan hingga Karya Nyata untuk Indonesia Akal Sehat, Pikiran Hebat, Karya Nyata menjadi pesan tentang Kebunghattaan, kemerdekaan berpikir, persaudaraan lintas generasi, dan pengabdian alumni kepada almamater, masyarakat, serta bangsa.

Akal Sehat • Pikiran Hebat • Karya Nyata

Oleh: Akhwil, S.H.

  • Praktisi Hukum/Advokat,
  • Alumni Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta Angkatan 1982

Lagu SALUNI Bung Hatta bukan sekadar lagu kebanggaan alumni. Di dalamnya terkandung pesan mengenai persaudaraan, ilmu pengetahuan, integritas, kemerdekaan berpikir, nilai-nilai Kebunghattaan, serta panggilan untuk mengabdi kepada almamater, masyarakat, bangsa, dan negara.

Lagu ini menegaskan bahwa menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Bung Hatta bukan semata-mata tentang pernah belajar dan menempuh pendidikan di kampus yang sama. Lebih dari itu, terdapat nilai-nilai yang mempersatukan, persaudaraan yang perlu dipelihara, ilmu yang harus dipertanggungjawabkan, serta pengalaman yang selayaknya dikembalikan dalam bentuk manfaat.

Pesan lagu ini tidak hanya ditujukan kepada alumni.

Lagu ini juga ditujukan kepada mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan, para dosen dan tenaga kependidikan, seluruh civitas akademika Universitas Bung Hatta, serta masyarakat luas yang mengenal Bung Hatta sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Dengan semangat “Akal Sehat • Pikiran Hebat • Karya Nyata”, lagu ini menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan: nilai-nilai luhur Bung Hatta sebagai sumber inspirasi, pendidikan sebagai sarana pembentukan manusia, persaudaraan sebagai kekuatan, dan karya nyata sebagai wujud pengabdian.

BERHIMPUN DALAM PERSAUDARAAN

Lirik pembuka,

“Di bawah panji cita-cita mulia,
Kami berhimpun dalam persaudaraan,
Alumni Bung Hatta dalam satu jiwa,
Mengabdi dengan tulus bagi Indonesia.”

menempatkan persaudaraan sebagai titik awal.

Universitas Bung Hatta telah mempertemukan berbagai generasi dengan latar belakang, daerah asal, disiplin ilmu, dan pengalaman yang beragam.

Setelah meninggalkan kampus, kehidupan membawa para alumninya menempuh jalan masing-masing.

Ada yang menjadi akademisi, profesional, pengusaha, advokat dan praktisi hukum, birokrat, jurnalis, teknokrat, pendidik, pekerja sosial, pemimpin masyarakat, serta menjalani berbagai bidang pengabdian lainnya.

Ada yang tetap berkarya di Sumatera Barat. Ada yang mengabdikan diri di berbagai penjuru Nusantara. Ada pula yang membawa ilmu, pengalaman, dan nama almamater hingga ke berbagai negara.

Jarak dapat memisahkan.

Profesi dapat berbeda.

Generasi dapat berganti.

Jalan kehidupan dan pemikiran pun tidak selalu sama.

Namun, persaudaraan sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Bung Hatta tidak semestinya sirna.

Itulah salah satu semangat yang hendak disampaikan melalui lagu SALUNI Bung Hatta: berhimpun bukan untuk menyeragamkan, melainkan untuk saling menguatkan.

ILMU SEBAGAI PENERANG LANGKAH

Lirik,

“Berbekal ilmu sebagai penerang langkah,
Dengan hati teguh, mandiri, dan merdeka,
Menjunjung amanah serta kebenaran,
Bersama melangkah dalam pengabdian.”

menyampaikan pesan yang mendalam mengenai hakikat pendidikan.

Pendidikan bukan semata-mata proses untuk memperoleh gelar.

Ilmu seharusnya membentuk cara berpikir, memperluas wawasan, mempertajam kepekaan, memperhalus nurani, serta menumbuhkan keberanian untuk membedakan yang benar dan yang keliru.

Karena itu, kata “merdeka” dalam lirik tersebut memiliki arti penting.

Merdeka tidak hanya berarti bebas.

Merdeka juga berarti memiliki kemerdekaan berpikir.

Kemerdekaan berpikir mencakup kemampuan menggunakan akal sehat, tidak mudah terseret kepentingan, berani menyampaikan pemikiran secara bertanggung jawab, mampu mendengarkan pandangan yang berbeda, serta memiliki keteguhan dalam menjaga amanah dan kebenaran.

Kampus memberikan ilmu.

Kehidupan kemudian menguji bagaimana ilmu tersebut digunakan.

Ilmu tidak seharusnya berhenti sebagai pengetahuan.

Ilmu menemukan kemuliaannya ketika memberikan manfaat.

WARISAN BUNG HATTA: BUKAN SEKADAR NAMA

Nama Bung Hatta yang melekat pada universitas ini merupakan kebanggaan sekaligus tanggung jawab moral.

Lagu SALUNI menegaskannya melalui lirik:

“Warisan luhur Bung Hatta tercinta,
Senantiasa menyala di dalam jiwa,
Kesederhanaan, kejujuran, dan keberanian,
Menjadi pedoman dalam setiap langkah kami.”

Pesan ini memiliki makna yang kuat.

Bung Hatta tidak semestinya hanya dikenang sebagai tokoh sejarah, dibicarakan dalam seminar, diabadikan melalui foto, atau dilekatkan pada nama sebuah universitas.

Warisan terbaik seorang tokoh adalah ketika nilai-nilai yang diperjuangkannya tetap hidup dalam perilaku generasi berikutnya.

Kejujuran harus tercermin dalam pekerjaan.

Kesederhanaan tetap terjaga ketika memperoleh kedudukan.

Keberanian hadir ketika kebenaran perlu disampaikan.

Integritas tetap dipertahankan ketika berhadapan dengan kepentingan.

Amanah dijaga ketika memperoleh kepercayaan.

Dan ilmu memberikan manfaat ketika masyarakat membutuhkannya.

Di situlah Kebunghattaan memperoleh maknanya.

Kebunghattaan bukan sekadar kebanggaan terhadap nama besar Mohammad Hatta.

Kebunghattaan merupakan ikhtiar untuk menjaga dan menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.

MENJAGA AMANAH DAN MARTABAT

Lirik,

“Menjaga amanah, menjunjung martabat,
Berpikir jernih, berpendirian teguh,”

menegaskan bahwa kecerdasan saja tidak cukup.

Ilmu tanpa integritas dapat kehilangan arah.

Kepandaian tanpa tanggung jawab dapat kehilangan manfaat.

Dan kedudukan tanpa amanah dapat kehilangan kehormatan.

Karena itu, lagu ini mempertemukan kecerdasan dengan karakter.

Alumni Bung Hatta diharapkan tidak hanya dikenal karena kemampuan profesionalnya, tetapi juga karena dapat dipercaya.

Martabat tidak semata-mata lahir dari jabatan, gelar, kekayaan, atau popularitas.

Martabat dibangun melalui kemampuan menjaga amanah ketika dipercaya, mempertahankan integritas ketika diuji, dan tetap menghargai orang lain ketika memperoleh kedudukan.

Nilai-nilai inilah yang menjadikan pendidikan memiliki arti jauh melampaui ruang kuliah.

BERBEDA PEMIKIRAN, TETAP BERSAUDARA

Salah satu bagian yang memiliki pesan sangat relevan terdapat pada lirik:

“Di mana pun kami berada,
Persaudaraan takkan pernah sirna,
Berbeda jalan, berbeda pemikiran,
Tetap bersatu dalam persahabatan.”

Alumni Universitas Bung Hatta berasal dari berbagai generasi, disiplin ilmu, profesi, pengalaman, daerah, dan lingkungan kehidupan.

Perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar.

SALUNI tidak perlu menjadi ruang untuk menyeragamkan seluruh pemikiran.

Justru lingkungan akademik mengajarkan bahwa perbedaan dapat menjadi kekayaan apabila dibicarakan dengan ilmu, akal sehat, argumentasi, keterbukaan, dan sikap saling menghormati.

Kita tidak harus selalu sepakat untuk tetap menjadi sahabat.

Kita tidak harus menempuh jalan yang sama untuk tetap memiliki tujuan besar yang sama.

Semangat tersebut sejalan dengan falsafah Minangkabau:

“Duduak samo randah, tagak samo tinggi.”

Persaudaraan dibangun dalam kesetaraan.

Senior maupun junior, akademisi maupun profesional, pengusaha maupun pekerja, mereka yang berada di kampung halaman maupun di perantauan, semuanya memiliki ruang yang sama untuk berpikir, berbicara, berkarya, dan memberikan manfaat.

Yang mempersatukan bukanlah kesamaan dalam segala hal.

Yang mempersatukan adalah persaudaraan, kecintaan kepada almamater, nilai-nilai luhur, dan kehendak untuk memberikan manfaat.

DARI ALMAMATER UNTUK NEGERI

Lirik,

“Dari almamater untuk negeri,
Dari persahabatan menuju pengabdian,
Dengan semangat Kebunghattaan,
Kita berkarya bagi Indonesia.”

menjadi salah satu inti pesan lagu SALUNI.

Almamater tentu patut dicintai.

Namun, kecintaan kepada almamater seharusnya tidak berhenti pada nostalgia.

Kampus telah memberikan ilmu, pengalaman, persahabatan, dan jalan bagi banyak orang untuk memasuki kehidupan yang lebih luas.

Pada suatu ketika, akan muncul sebuah pertanyaan:

Apa yang dapat kita kembalikan?

Bagi mahasiswa, jawabannya dapat dimulai dengan belajar secara sungguh-sungguh, membangun karakter, menjaga integritas, dan mempersiapkan diri menjadi manusia yang bermanfaat.

Bagi alumni, jawabannya dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk.

Berbagi pengalaman.

  • Menjadi mentor.
  • Membuka kesempatan kerja.
  • Mendukung pendidikan.
  • Membangun usaha yang sehat.
  • Mengembangkan ilmu pengetahuan.
  • Mendukung mahasiswa dan alumni muda.
  • Memperkuat almamater.
  • Membangun jejaring.
  • Menyumbangkan pemikiran.
  • Mengabdikan kompetensi profesional untuk membantu masyarakat.

Bentuknya dapat berbeda.

Yang terpenting adalah semangat untuk memberi.

Karena itu, SALUNI diharapkan menjadi ruang bertemunya pengalaman, pengetahuan, gagasan, jejaring, kepedulian, dan kesempatan untuk berkarya bersama.

AKAL SEHAT • PIKIRAN HEBAT • KARYA NYATA

Puncak pesan lagu SALUNI terdapat pada tiga ungkapan:

AKAL SEHAT • PIKIRAN HEBAT • KARYA NYATA

Ketiganya bukan sekadar slogan.

Ketiganya merupakan satu rangkaian nilai.

Akal Sehat adalah fondasi.

Akal sehat mengajak kita melihat persoalan secara jernih, rasional, dan terbuka, serta tidak mudah terbawa prasangka, emosi, maupun kepentingan sesaat.

Dari akal sehat diharapkan lahir Pikiran Hebat.

Pikiran hebat bukan hanya pikiran yang pandai mengkritik.

Pikiran hebat adalah pemikiran yang mampu menawarkan jalan keluar, melahirkan gagasan, menciptakan inovasi, mencari solusi, dan menggunakan ilmu untuk menjawab persoalan nyata.

Namun, sehebat apa pun sebuah pemikiran, hal itu belum cukup apabila hanya berhenti sebagai wacana.

Karena itu, hadir Karya Nyata.

Karya nyata adalah pembuktian.

Gagasan harus menemukan jalan menuju tindakan.

Pengetahuan harus melahirkan manfaat.

Persaudaraan harus menghasilkan kepedulian.

Jejaring harus membuka kesempatan.

Dan kecintaan kepada Indonesia harus menemukan bentuknya dalam pengabdian.

Dengan demikian, ketiga nilai tersebut dapat dimaknai sebagai berikut:

Akal Sehat adalah kejernihan cara kita berpikir.

Pikiran Hebat adalah keberanian kita melahirkan gagasan.

Karya Nyata adalah pembuktian atas pengabdian kita.

PESAN UNTUK MAHASISWA UNIVERSITAS BUNG HATTA

Lagu SALUNI tidak hanya berbicara kepada mereka yang telah menjadi alumni.

Lagu ini juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa Universitas Bung Hatta yang saat ini masih belajar di ruang kuliah, laboratorium, perpustakaan, organisasi kemahasiswaan, dan berbagai ruang pembelajaran lainnya.

Suatu hari, mereka pun akan menjadi alumni.

Karena itu, persaudaraan alumni sesungguhnya tidak baru dimulai ketika seseorang menerima ijazah.

Fondasinya dibangun sejak menjadi mahasiswa.

Persahabatan yang dirawat hari ini dapat menjadi jaringan kebaikan puluhan tahun kemudian.

Integritas yang dilatih hari ini akan menentukan karakter ketika kelak memegang tanggung jawab.

Keberanian berpikir yang diasah hari ini akan menentukan kualitas keputusan pada masa depan.

Dan ilmu yang dipelajari hari ini, pada waktunya, akan ditunggu manfaatnya oleh masyarakat.

Menjadi mahasiswa Universitas Bung Hatta bukan hanya tentang belajar di sebuah universitas yang menyandang nama Bung Hatta.

Hal itu juga merupakan kesempatan untuk memahami nilai-nilai yang membuat nama Bung Hatta tetap relevan bagi kehidupan bangsa.

Mahasiswa hari ini adalah alumni masa depan.

Dan alumni masa depan merupakan salah satu wajah almamater pada zamannya.

PESAN UNTUK ALUMNI DI MANA PUN BERADA

Kepada alumni Universitas Bung Hatta di Sumatera Barat, di berbagai daerah di Indonesia, maupun yang berada di luar negeri, lagu SALUNI menyampaikan sebuah panggilan sederhana:

Mari kembali terhubung.

  • Kembali tidak selalu berarti pulang secara fisik ke kampus.
  • Kembali dapat berarti berbagi pengetahuan.
  • Kembali dapat berarti menjadi mentor.
  • Kembali dapat berarti membuka jalan bagi mahasiswa dan alumni muda.
  • Kembali dapat berarti mempertemukan jejaring dan kesempatan.
  • Kembali dapat berarti membantu sesama alumni yang membutuhkan.
  • Kembali dapat berarti menyumbangkan gagasan.
  • kembali dapat berarti menghadirkan sesuatu yang bermanfaat bagi almamater, masyarakat, dan Indonesia.

Sebab almamater tidak hanya hidup di dalam gedung dan lingkungan kampus.

Almamater hidup melalui setiap alumninya.

Di mana pun alumni Universitas Bung Hatta berada, di sana pula nama almamater turut dibawa.

Cara alumni bekerja, menjaga amanah, mempertahankan integritas, memperlakukan sesama, dan memberikan manfaat kepada lingkungan merupakan bagian dari wajah Universitas Bung Hatta di tengah masyarakat.

PERSAUDARAAN YANG MELAMPAUI GENERASI DAN BATAS WILAYAH

SALUNI membawa gagasan bahwa jaringan alumni dapat menjadi kekuatan apabila persaudaraan mampu melampaui batas angkatan, fakultas, profesi, daerah, bahkan negara.

Alumni senior memiliki pengalaman yang dapat dibagikan kepada generasi berikutnya.

Alumni muda membawa energi, kreativitas, teknologi, dan cara pandang baru.

Profesional memiliki keahlian.

Pengusaha memiliki pengalaman dalam membangun usaha.

Akademisi membawa pengetahuan dan tradisi keilmuan.

Diaspora dapat membuka perspektif serta jejaring internasional.

Setiap orang memiliki sesuatu untuk dibagikan.

Setiap orang juga memiliki sesuatu yang dapat dipelajari dari orang lain.

Karena itu, hubungan antargenerasi tidak seharusnya hanya berjalan satu arah dari senior kepada junior.

SALUNI dapat menjadi ruang untuk saling belajar, saling menghubungkan, dan saling menguatkan.

Ketika seluruh kekuatan tersebut dipertemukan dalam semangat persahabatan, jaringan alumni tidak lagi sekadar menjadi kumpulan nama.

Jaringan tersebut dapat berkembang menjadi ekosistem pengetahuan, persaudaraan, kepedulian, kesempatan, dan pengabdian.

UNTUK ALMAMATER, MASYARAKAT, DAN INDONESIA

Bagian akhir lagu SALUNI menyerukan:

“Untuk Alumni!
Untuk Almamater!
Untuk Masyarakat!
Untuk Indonesia!”

Keempat seruan tersebut memperluas cakrawala pengabdian SALUNI.

Gerakan alumni tentu dimulai dari alumni.

Namun, manfaatnya tidak seharusnya berhenti pada alumni.

Persaudaraan alumni harus dapat memperkuat almamater.

Almamater dan alumni bersama-sama dapat memberikan manfaat kepada masyarakat.

Dan seluruhnya bermuara pada pengabdian yang lebih luas kepada Indonesia.

Dengan demikian, SALUNI bukan hanya tentang siapa kita, tetapi juga tentang untuk siapa kita berkarya.

SEBUAH LAGU, SEBUAH PENGINGAT, SEBUAH PANGGILAN

Pada akhirnya, lagu SALUNI Bung Hatta tidak dimaksudkan hanya untuk dinyanyikan dalam pertemuan, kegiatan alumni, atau acara seremonial.

Lagu ini diharapkan menjadi pengingat sekaligus panggilan.

  • Pengingat bahwa ilmu membawa tanggung jawab.
  • Pengingat bahwa perbedaan tidak harus memutus persaudaraan.
  • Pengingat bahwa nama Bung Hatta membawa nilai-nilai yang harus dijaga.
  • Pengingat bahwa integritas harus hadir dalam setiap amanah.
  • Pengingat bahwa alumni memiliki tanggung jawab moral kepada almamater dan masyarakat.
  • pengingat bahwa kecintaan kepada Indonesia harus diwujudkan melalui karya dan pengabdian nyata.

Ketika refrain menyerukan:

“SALUNI, SALUNI,
Sahabat Alumni Bung Hatta,
“Satukan hati, satukan langkah,
Dalam semangat perjuangan,”

yang hendak disatukan bukanlah seluruh pemikiran.

Yang hendak disatukan adalah hati, persaudaraan, semangat, dan kehendak untuk memberikan manfaat.

  • Kita boleh berbeda generasi.
  • Kita boleh berbeda profesi.
  • Kita boleh berada di tempat yang berjauhan.
  • Kita boleh memiliki pemikiran dan pilihan yang berbeda.

Namun, dalam persaudaraan, integritas, kecintaan kepada almamater, nilai-nilai Kebunghattaan, dan pengabdian kepada Indonesia, selalu tersedia ruang untuk berjalan bersama.

Itulah jiwa yang hendak disampaikan melalui lagu SALUNI Bung Hatta.

  • Dari persahabatan menuju pengabdian.
  • Dari ilmu menuju kemanfaatan.
  • Dari pemikiran menuju gagasan.
  • Dari gagasan menuju karya nyata.
  • Dari almamater untuk Indonesia.

Karena pada akhirnya, kebanggaan menjadi bagian dari Universitas Bung Hatta bukan hanya tentang mengenang dari mana kita berasal.

Yang jauh lebih penting adalah apa yang kita lakukan dengan ilmu yang kita miliki, nilai apa yang kita jaga, dan manfaat apa yang kita tinggalkan.

SALUNI BUNG HATTA

AKAL SEHAT • PIKIRAN HEBAT • KARYA NYATA

Untuk Alumni.
Untuk Almamater.
Untuk Masyarakat.
Untuk Indonesia.

Penulis:

Akhwil, S.H.

  • Praktisi Hukum/Advokat
  • Alumni Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta Angkatan 1982

Sumber dan dasar pemaknaan:

Tulisan ini merupakan interpretasi dan refleksi penulis atas lirik “SALUNI Bung Hatta — Akal Sehat • Pikiran Hebat • Karya Nyata”, dengan memperhatikan semangat persaudaraan alumni, pengabdian, nilai-nilai Kebunghattaan, serta gagasan dasar dan arah perjuangan SAHABAT Alumni Universitas Bung Hatta (SALUNI Bung Hatta).

Pos terkait