SALUNI BUNG HATTA LAHIR, MENGHIDUPKAN KEBUNGHATTAAN DARI PERSAHABATAN MENUJU GAGASAN DAN PENGABDIAN

Bagikan

Mengusung “Akal Sehat dan Pikiran Hebat”, SALUNI hadir sebagai ruang terbuka alumni Universitas Bung Hatta untuk membangun persaudaraan, pemikiran, jejaring, karya, dan pengabdian bagi almamater, masyarakat, dan Indonesia

Oleh: Akhwil, S.H. (Praktisi Hukum / Advokat | Alumni Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta Angkatan 1982)

Kota Tangerang, 23-08-2026, Watchnews.co.id

Ada sebuah gagasan yang lahir dari persahabatan, tumbuh dari kegelisahan, dan dipertemukan oleh kecintaan yang sama terhadap almamater serta nilai-nilai yang diwariskan Mohammad Hatta

Gagasan itu kemudian diberi nama SAHABAT Alumni Universitas Bung Hatta, disingkat SALUNI Bung Hatta.

SALUNI Bung Hatta resmi didirikan di Tangerang, Banten, pada 18 Agustus 2026, satu hari setelah bangsa Indonesia memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kedekatan tanggal tersebut bukan sekadar kebetulan administratif. Para pendiri memaknainya sebagai penegasan bahwa setiap gerakan yang membawa nama Bung Hatta semestinya tetap berada dalam bingkai keindonesiaan, kebangsaan, kemerdekaan berpikir, integritas, dan pengabdian kepada bangsa.

SALUNI HADIR DENGAN MOTTO “AKAL SEHAT DAN PIKIRAN HEBAT”

Namun kelahiran SALUNI bukan dimaksudkan sekadar menambah satu lagi organisasi dalam kehidupan alumni Universitas Bung Hatta.

Sejak awal, para pendirinya justru menempatkan SALUNI sebagai platform perjuangan, persahabatan, komunikasi, intelektualitas, jejaring, dan pengabdian alumni.

Sebuah ruang tempat alumni dapat bertemu bukan hanya karena pernah berada di kampus yang sama, tetapi karena mempunyai kepedulian yang sama terhadap almamater, masyarakat, bangsa, serta nilai-nilai kebunghattaan.

LAHIR DI HADAPAN ALUMNI BUNG HATTA

Pendirian SALUNI Bung Hatta pada 18 Agustus 2026 dilakukan di hadapan Dra. Hj. Rahmanita Rusli, S.H., M.E., notaris senior di Tangerang, Banten.

Menariknya, Rahmanita Rusli bukan sosok yang asing dengan Universitas Bung Hatta. Ia merupakan alumni Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta Angkatan 1983.

Dengan demikian, momentum kelahiran SALUNI mempunyai ikatan emosional tersendiri. Platform alumni tersebut tidak hanya didirikan oleh para alumni Bung Hatta, tetapi proses pendiriannya juga dilakukan di hadapan seorang profesional hukum yang berasal dari almamater yang sama.

Rahmanita dikenal memiliki pengalaman panjang di bidang kenotariatan. Ia juga memiliki latar belakang pendidikan Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol Padang. Perjalanan pendidikan dan profesinya mencerminkan pertemuan antara ilmu hukum, pemahaman syariah, pengalaman kenotariatan, serta kedekatan dengan tradisi hukum dan masyarakat Minangkabau.

Dalam gagasan pengembangan pendidikan hukum, Rahmanita juga memiliki perhatian terhadap kemungkinan pengembangan pendidikan kenotariatan yang menghubungkan hukum nasional dengan perspektif syariah dan hukum adat Minangkabau.

Kehadirannya dalam momentum pendirian SALUNI menjadi bagian dari cerita tentang bagaimana potensi alumni Universitas Bung Hatta sesungguhnya tersebar dalam berbagai profesi dan bidang pengabdian.

LIMA ALUMNI, SATU SEMANGAT PERJUANGAN

SALUNI Bung Hatta didirikan oleh lima alumni dari latar belakang generasi, profesi, pengalaman, dan wilayah pengabdian yang berbeda, yakni Armen Amir, Ahmad Rizal, Ilfa Yusmadi, Yeyen Kiram, dan Mizan Asnawi.

Kelima pendiri secara bersama-sama berkedudukan sebagai Senior Executive Founder Utama SALUNI Bung Hatta.

Kedudukan tersebut bukan jabatan ketua ataupun struktur kepengurusan organisasi konvensional. Para pendiri menempatkannya sebagai fungsi untuk menjaga nilai, identitas, independensi, arah strategis, serta kesinambungan perjuangan SALUNI.

Armen Amir merupakan alumni Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta. Pada masa mahasiswa ia pernah menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Hukum periode 1983–1985. Dalam perjalanan profesionalnya, Armen memiliki pengalaman panjang di bidang kepelabuhanan, kemaritiman, serta manajemen strategis, termasuk menjalankan berbagai posisi senior di lingkungan PT Pelabuhan Indonesia II.

Ahmad Rizal merupakan alumni Fakultas Sastra Universitas Bung Hatta, Jurusan Sastra Inggris. Ia berkarier di industri perbankan dengan pengalaman dalam international banking, treasury, remittance, trade finance, money market, foreign exchange, sukuk, treasury operations, settlement, likuiditas, pengelolaan risiko, serta kepatuhan perbankan. Latar belakang akademiknya juga diperkuat pendidikan magister dalam bidang bisnis, ekonomi, dan keuangan.

Ilfa Yusmadi merupakan alumni Jurusan Bahasa Jepang Fakultas Sastra Universitas Bung Hatta dan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sejak 2002 ia berkecimpung dalam hubungan profesional Indonesia–Jepang, mulai dari interpretasi bahasa Jepang, Kaizen, Toyota Production System, transfer teknologi, hingga pengembangan sumber daya manusia. Saat ini Ilfa bergabung dengan B2B Success Co., Ltd. di Tokyo dan ikut mengembangkan kerja sama pendidikan serta sumber daya manusia antara Indonesia dan Jepang.

Yeyen Kiram, alumni Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta, dikenal sebagai jurnalis senior, penulis, dan pegiat berbagai komunitas sosial serta kebudayaan di Sumatera Barat. Sejak masa mahasiswa ia aktif dalam kegiatan ilmiah, kemahasiswaan, dan kepemudaan. Ia juga pernah mewakili Universitas Bung Hatta dalam program Pertukaran Pemuda Antarprovinsi tahun 1988 serta mengikuti Program Manajemen Ekonomi Terapan Nasional yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI bekerja sama dengan lembaga pendidikan Prasetiya Mulya.

Sementara itu, Mizan Asnawi merupakan generasi alumni dari Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta. Saat ini ia menjabat Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Riau. Mizan juga mengembangkan gagasan mengenai koperasi berbasis kebunghattaan sebagai bagian dari aktualisasi pemikiran ekonomi kerakyatan yang menjadi salah satu warisan penting Mohammad Hatta.

Keragaman kelima pendiri tersebut menjadi gambaran awal karakter yang hendak dibangun SALUNI.

Ada pengalaman profesional dan korporasi, perbankan dan keuangan, hubungan internasional dan diaspora, jurnalistik dan kebudayaan, serta dunia akademik dan ekonomi kerakyatan.

Berbeda latar belakang, tetapi dipertemukan oleh satu semangat: kecintaan kepada Universitas Bung Hatta dan keinginan menghidupkan nilai kebunghattaan.

BUKAN UNTUK MENGGANTIKAN ORGANISASI ALUMNI YANG TELAH ADA

Salah satu pesan yang mendapat penekanan kuat dalam deklarasi pendirian SALUNI adalah posisi platform ini dalam kehidupan alumni Universitas Bung Hatta.

SALUNI tidak dimaksudkan untuk mengambil alih, menggantikan, ataupun berhadapan dengan organisasi alumni yang telah ada.

SALUNI ingin menjadi ruang terbuka yang dapat diikuti alumni tanpa memandang organisasi, profesi, generasi, daerah, komunitas, maupun lingkungan sosial tempat mereka berada.

Dengan kata lain, seseorang tidak harus meninggalkan organisasi atau komunitas alumninya untuk dapat mengambil bagian dalam aktivitas SALUNI.

Salah seorang pendiri SALUNI Bung Hatta, Armen Amir, menegaskan bahwa ruang yang hendak dibangun SALUNI tidak boleh menjadi sumber sekat baru di antara sesama alumni.

“SALUNI tidak lahir untuk menjadi pesaing atau tandingan bagi organisasi alumni yang telah ada. Kita ingin membuka ruang bersama yang lebih luas, tempat alumni Bung Hatta dapat bertemu sebagai sahabat, bertukar pikiran, berbeda pendapat secara sehat, membangun jejaring, dan kemudian melahirkan karya serta pengabdian. Yang ingin kita jaga adalah nilai kebunghattaan: integritas, kesederhanaan, keberanian berpikir, kepedulian kepada rakyat, dan tanggung jawab kepada bangsa. Karena itu, semangat kita adalah Akal Sehat dan Pikiran Hebat.”— Ujar Armen Amir, Pendiri SALUNI Bung Hatta

Semangat tersebut sejalan dengan falsafah Minangkabau, “duduak samo randah, tagak samo tinggi”- duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Tidak ada generasi tertentu yang lebih berhak memiliki SALUNI. Tidak ada profesi tertentu yang ditempatkan lebih tinggi. Tidak pula SALUNI dimaksudkan menjadi milik individu ataupun kelompok tertentu.

SALUNI adalah ruang bersama. Peserta, Bukan Anggota

Karakter tersebut juga terlihat dari pilihan SALUNI untuk menggunakan istilah “peserta”, bukan “anggota”.

SALUNI dibangun sebagai platform non-badan hukum. Karena itu, hubungan alumni dengan SALUNI tidak diletakkan dalam konstruksi keanggotaan organisasi konvensional.

Peserta adalah alumni Universitas Bung Hatta yang secara sukarela mengambil bagian dalam kegiatan, forum, gagasan, jejaring, maupun pengabdian SALUNI.

Partisipasi bersifat terbuka dan sukarela.

Konsep tersebut ingin memberikan ruang seluas-luasnya bagi alumni untuk berkontribusi tanpa kehilangan kebebasan maupun identitasnya di organisasi, profesi, komunitas, dan lingkungan sosial masing-masing.

MENGAPA KEBUNGHATAAN PERLU DIHIDUPKAN KEMBALI?

Di balik kelahiran SALUNI terdapat sebuah kegelisahan sekaligus harapan.

Kegelisahannya adalah bahwa nilai-nilai kebunghattaan yang selama ini melekat pada identitas Universitas Bung Hatta perlu terus dirawat, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi alumni berikutnya.

Harapannya adalah agar alumni Universitas Bung Hatta dapat berkembang menjadi kekuatan intelektual, profesional, sosial, ekonomi, kebudayaan, dan kebangsaan yang memberi manfaat nyata.

Bagi SALUNI, nama besar Dr. Mohammad Hatta tidak cukup hanya dikenang sebagai nama seorang Proklamator atau nama sebuah perguruan tinggi.

  • Bung Hatta harus menjadi nilai hidup.
  • Nilai tentang kejujuran.
  • Nilai tentang integritas.
  • Nilai tentang kecerdasan.
  • Nilai tentang kesederhanaan.
  • Nilai tentang keberanian.
  • Nilai tentang tanggung jawab.
  • Nilai tentang kepedulian kepada rakyat.
  • Nilai tentang demokrasi.
  • Dan nilai tentang ekonomi kerakyatan.

Nilai-nilai itulah yang ingin dibawa dari ruang sejarah menuju kehidupan alumni hari ini.

Sebab tantangan kebunghattaan sesungguhnya bukan hanya bagaimana mengenang Bung Hatta, tetapi bagaimana menjadikan cara berpikir dan keteladanannya relevan untuk menjawab persoalan zaman.

“Akal Sehat dan Pikiran Hebat”

Dari pemikiran tersebut SALUNI menetapkan “Akal Sehat dan Pikiran Hebat” sebagai motto perjuangan.

Akal sehat menggambarkan kemampuan membaca persoalan secara jernih, rasional, objektif, dan proporsional.

Sedangkan pikiran hebat tidak semata-mata berarti kecerdasan akademik. Pikiran hebat adalah keberanian menghasilkan gagasan, menguji pendapat, menerima kritik, mencari jalan keluar, serta menggunakan ilmu dan pengalaman untuk kepentingan yang lebih luas.

Karena itulah SALUNI tidak ingin hanya menjadi ruang nostalgia.

SALUNI ingin menjadi ruang lahirnya gagasan.

  • Ruang untuk berdiskusi.
  • Ruang untuk berbeda pendapat secara sehat.
  • Ruang untuk membangun jejaring.
  • Ruang untuk mengembangkan pengabdian.
  • Ruang untuk memperkuat persaudaraan.
  • Dan terutama, ruang untuk melahirkan solusi.

Dalam tradisi Minangkabau dikenal ungkapan:

“Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakaik.”

Air menjadi bulat karena pembuluh, kata menjadi bulat karena mufakat.

Mufakat tidak harus dimulai dengan kesamaan pendapat. Ia justru dapat lahir setelah berbagai pikiran dipertemukan, diperdebatkan secara sehat, dan kemudian dicarikan titik terbaik bagi kepentingan bersama.

Dalam konteks itulah akal sehat dan pikiran hebat memperoleh maknanya.

Dari Nostalgia Menuju Karya

SALUNI ingin menawarkan orientasi baru dalam membangun hubungan antarsesama alumni.

Pertemuan alumni tetap boleh menjadi ruang mengenang persahabatan dan masa-masa kuliah. Tetapi ikatan itu diharapkan tidak berhenti di sana.

Bertemu bukan hanya untuk bernostalgia, tetapi untuk berpikir.

Berkumpul bukan hanya untuk berbicara, tetapi untuk berkarya.

Berjejaring bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk pengabdian.

Untuk mewujudkannya, SALUNI akan mengembangkan berbagai Forum Komunikasi Perjuangan, antara lain forum daerah, profesi, keilmuan, kebangsaan, sosial, kebudayaan, internasional, diaspora, kelompok kerja, serta task force sesuai kebutuhan.

Forum tersebut tidak dimaksudkan menjadi struktur organisasi permanen.

Ia dibentuk ketika ada kebutuhan, persoalan, atau gagasan yang memerlukan kontribusi alumni.

Alumni bidang hukum dapat berkontribusi melalui pemikiran dan pengabdian hukum. Ekonom dapat mengembangkan gagasan ekonomi kerakyatan. Akademisi dapat membangun program pendidikan dan penelitian. Profesional dapat membuka jejaring kompetensi dan kesempatan. Jurnalis serta budayawan dapat mengembangkan literasi dan kebudayaan. Sementara diaspora dapat menjadi jembatan antara Indonesia dengan dunia internasional.

Dengan demikian, SALUNI ingin tumbuh secara organik melalui gagasan, partisipasi, jejaring, dan karya nyata.

INDEPENDEN, NON-PARTISAN DAN NON-PROFIT

SALUNI juga sejak awal menegaskan karakter independen, terbuka, inklusif, kekeluargaan, intelektual, kebangsaan, non-partisan, dan non-profit.

SALUNI tidak didirikan untuk menjadi kendaraan politik praktis.

Ia juga tidak dimaksudkan menjadi alat kepentingan pribadi, kelompok, bisnis, ataupun kekuasaan.

Prinsip tersebut menjadi penting karena nama Bung Hatta membawa konsekuensi moral. Independensi dan integritas bukan sekadar atribut organisasi, melainkan nilai yang harus tercermin dalam setiap kegiatan yang menggunakan nama SALUNI.

Dalam pembiayaan kegiatan, SALUNI membuka ruang bagi kontribusi sukarela, dukungan alumni, sumbangan yang tidak mengikat, kerja sama yang sah, serta sumber lain yang tidak bertentangan dengan hukum maupun nilai dasar SALUNI.

Tidak terdapat pembagian keuntungan kepada pendiri ataupun peserta. Sumber daya yang diperoleh diarahkan untuk kegiatan, gagasan, dan pengabdian.

FOUNDER CHARTER MENJAGA “DNA SALUNI”

Untuk menjaga agar SALUNI tidak kehilangan arah ketika berkembang, para pendiri menetapkan Founder Charter sebagai piagam fundamental.

Founder Charter dimaksudkan untuk menjaga apa yang disebut sebagai “DNA SALUNI”.

DNA tersebut mencakup sejarah pendirian, identitas, nilai kebunghattaan, independensi, karakter non-partisan dan non-profit, status SALUNI sebagai platform non-badan hukum, kedudukan lima pendiri, perlindungan nama dan identitas, prinsip konflik kepentingan, mekanisme perubahan fundamental, serta kesinambungan perjuangan.

Kelima Senior Executive Founder Utama mempunyai tanggung jawab untuk menjaga prinsip-prinsip tersebut.

Dalam konteks itu, posisi para pendiri bukan terutama untuk menjalankan kekuasaan organisasi, melainkan menjaga agar perkembangan SALUNI di masa mendatang tidak menjauh dari semangat kelahirannya.

SALUNI juga dapat bekerja sama dengan berbagai lembaga dan badan hukum. Apabila kelak terdapat kegiatan yang memerlukan bentuk badan hukum tertentu, dapat dibentuk badan hukum pendukung tersendiri.

Namun badan hukum tersebut tidak identik dengan dan tidak menjadi pemilik SALUNI.

MENJEMBATANI ALUMNI, ALMAMATER DAN DIASPORA

Potensi alumni Universitas Bung Hatta tidak hanya berada di Padang atau Sumatera Barat.

Alumni tersebar di Jakarta dan berbagai daerah di Indonesia, bahkan bekerja dan membangun kehidupan profesional di berbagai negara.

SALUNI melihat sebaran tersebut sebagai kekuatan.

Alumni yang memiliki pengalaman nasional maupun internasional dapat menjadi jembatan bagi almamater dan generasi berikutnya.

SALUNI karena itu ingin mendorong lahirnya berbagai gagasan dan kegiatan dalam bidang pendidikan, kebudayaan, ekonomi kerakyatan, kewirausahaan, profesionalisme, kepemimpinan, pengabdian sosial, kebangsaan, diaspora, dan pengembangan sumber daya manusia.

Orientasinya bukan membangun jaringan yang sekadar besar dalam jumlah.

Yang hendak dibangun adalah jejaring yang kuat dalam kualitas dan bermanfaat dalam karya.

MENJADI ALUMNI BUNG HATTA ADALAH TANGGUNG JAWAB

Pendirian SALUNI juga ditempatkan dalam refleksi terhadap sejarah pemikiran dan perjuangan Dr. Mohammad Hatta, sekaligus perjalanan Universitas Bung Hatta.

Di dalamnya terdapat penghormatan terhadap kiprah Drs. Hasan Basri Durin, tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah pendirian dan pengelolaan Universitas Bung Hatta melalui Yayasan Pendidikan Wawasan Nusantara.

Nama-nama tersebut mengingatkan bahwa sebuah institusi pendidikan tidak dibangun hanya melalui gedung dan administrasi.

Ia dibangun oleh gagasan, keberanian, pengabdian, dan kesinambungan nilai.

Karena itu, tujuan akhir SALUNI adalah ikut mendorong lahirnya alumni Bung Hatta yang tangguh, cerdas, unggul, memiliki wawasan kebangsaan yang kuat, dan bermartabat kebunghattaan.

  • Tangguh menghadapi perubahan zaman.
  • Cerdas dan tanggap membaca lingkungan strategis.
  • Unggul dalam kompetensi.
  • Kuat dalam wawasan kebangsaan.
  • Berani menyampaikan kebenaran.
  • Santun menghadapi perbedaan.
  • Dan teguh menjaga integritas.

Kesuksesan profesional tetap penting. Tetapi bagi SALUNI, keberhasilan pribadi idealnya berjalan bersama tanggung jawab sosial dan kebangsaan.

SEBUAH PERJALANAN YANG BARU DI MULAI

Pada akhirnya, SALUNI Bung Hatta bukan tentang lima orang pendirinya.

Kelima pendiri hanyalah titik awal.

Masa depan SALUNI akan ditentukan oleh seberapa banyak alumni yang bersedia menyumbangkan pikiran, pengalaman, ilmu pengetahuan, profesi, tenaga, jaringan, dan pengabdiannya.

SALUNI juga tidak menjanjikan bahwa seluruh alumni yang berada di dalam ruangnya akan selalu mempunyai pendapat yang sama.

Justru sebaliknya.

SALUNI ingin menjadi tempat perbedaan pendapat dapat diolah menjadi pikiran yang lebih matang, sehat, dan bermanfaat.

Karena perbedaan adalah kekayaan, persaudaraan adalah kekuatan, integritas adalah karakter, pengabdian adalah jalan, dan kebunghattaan adalah nilai.

Dari Tangerang, 18 Agustus 2026, sebuah perjalanan baru itu dimulai.

  • Berangkat dari persahabatan.
  • Dipersatukan oleh almamater.
  • Digerakkan oleh gagasan.
  • Dijaga oleh integritas.
  • Dan diarahkan kepada pengabdian.

Bukan untuk menyeragamkan pikiran, tetapi mempertemukannya.

Bukan untuk menambah sekat di antara alumni, tetapi memperluas persaudaraan.

Bukan hanya untuk membawa nama Bung Hatta, tetapi untuk berikhtiar menghidupkan nilai-nilainya.

Sebab menjadi alumni Universitas Bung Hatta semestinya tidak berhenti sebagai identitas pendidikan yang tercantum pada selembar ijazah.

Ia adalah karakter sekaligus tanggung jawab.

  • Untuk alumni.
  • Untuk almamater.
  • Untuk masyarakat.
  • Dan untuk Indonesia.

SALUNI BUNG HATTA

SAHABAT Alumni Universitas Bung Hatta
“Akal Sehat dan Pikiran Hebat”

Sumber penulisan:

Artikel ini disusun dan dikembangkan berdasarkan Press Release Pendirian SAHABAT Alumni Universitas Bung Hatta (SALUNI Bung Hatta), Tangerang, Banten, 18 Agustus 2026, beserta informasi mengenai latar belakang, maksud dan tujuan pendirian, profil para pendiri, nilai dasar, serta Founder Charter SALUNI Bung Hatta. Kutipan Armen Amir dikembangkan dari substansi Press Release Pendirian SALUNI Bung Hatta dan telah dikonfirmasi kepada yang bersangkutan.

Pos terkait