Dzuriyat Kesultanan Banten Gelar Ngewiyak Budaya: Mengkaji Peraturan Era Kesultanan Banten

Bagikan

Oleh: Ratu Nizma

SERANG, 08-11-2026, Watchnews.co.id

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Ratu Bagus menggelar kegiatan “Ngewiyak Budaya: Mengkaji Peraturan Era Kesultanan Banten, Vol. 1” pada Sabtu (7/11/2026). Kegiatan berlangsung di Perpustakaan Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Banten, kawasan Gedung Negara, Alun-alun Kota Serang, mulai pukul 13.00 WIB hingga sore hari.

Acara berlangsung hangat dan penuh antusias. Narasumber pertama adalah Yadi Ahyadi atau akrab disapa Abah Yadi, sejarawan Banten sekaligus tim ahli di Perpustakaan Nasional. Narasumber kedua adalah Mang Dephi, pegiat literasi dan konten kreator sejarah budaya Banten.

Acara dipandu oleh Rahmat Heldy, M.Pd., Duta Baca Banten Pertama. Peserta yang hadir sekitar 29 orang, terdiri dari unsur pemerintah daerah, tokoh masyarakat, mahasiswa, dan masyarakat umum, khususnya Dzuriyat atau keluarga besar keturunan Kesultanan Banten.

Pembahasan berlangsung cukup padat karena mengangkat peraturan era Kesultanan Banten pada masa lampau yang jarang dibahas. Pada sesi tanya jawab, peserta terlihat sangat antusias dan penasaran. Kegiatan sempat jeda saat memasuki waktu Ashar, kemudian dilanjutkan hingga sore hari.

Kepala Bidang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Rochaendi, sangat mengapresiasi kegiatan ini.

“Alhamdulillah kami sangat mengapresiasi acara Ngewiyak Budaya ini. Selanjutnya acara ini bisa berkolaborasi dengan program pemerintah. Kita akan usulkan kegiatan ini berlangsung setiap tanggal 17, karena itu adalah tanggal kemerdekaan Negara Republik Indonesia, termasuk Banten. Semoga dengan adanya kegiatan Ngewiyak Budaya, masyarakat Banten bisa terbuka wawasan kebantenannya,” ujarnya.

Anggota DPRD Kabupaten Serang, Tb. M. Sholeh, sangat mendukung acara Ngewiyak Budaya. Begitu pun dari komunitas alumni ITB Banten, Kang Andi Fachrie dan Kang Heru, serta Diplomat Muda Banten untuk PBB, Mr. Ridwan. Dalam pernyataannya di tempat terpisah karena berhalangan hadir, mereka mengaku sebagai bagian dari Keluarga besar atau dzuriyat Kesultanan merasa memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk melestarikan budaya Banten jangan sampai hilang tergerus arus globalisasi yang semakin melampaui batas budaya.

Tokoh Banten, Abah Udin Saparudin, mengatakan kehadirannya dalam acara ini juga merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai masyarakat dan keluarga besar Banten.

Ketua FKS Wisata Kesultanan Banten, Ayip Amir, mengatakan bahwa kegiatan ngewiyak budaya harus terus dilestarikan sehingga bisa meningkatkan wisata religi dan heritage di Provinsi Banten.

Ketua Srikandi MAKTAB (Majelis Agung Dzuriyat Kesultanan Banten), Hj. Ratu Ina Abbas, juga menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, baik laki-laki maupun perempuan harus mengenal sejarah dan budayanya sendiri, jangan sampai hanya mengenal budaya asing lewat artis idola negara lain yang belum tentu sesuai dengan budaya kita.

Tokoh muda Banten, KH. Tb. Imam Ibrahim, di sela kesibukan dakwah internasional ke berbagai negara, turut antusias mengikuti kegiatan ini. Menurutnya, generasi muda harus mengenal sejarah dan budayanya karena hal itu merupakan bagian dari identitas bangsa Indonesia yang berdaulat dan sejajar dengan negara-negara merdeka lainnya.

“Karena bangsa yang maju adalah bangsa yang mengenal sejarahnya,” tegasnya.

Tuan rumah dari Perpus Setda, Bapak Yudo, juga mengapresiasi kegiatan ini. Ia menyampaikan bahwa kegiatan rutin yang rencananya digelar sebulan sekali dapat tetap dilaksanakan di tempatnya, baik di Perpus Setda maupun di Aula Gedung Negara, agar dapat dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan positif.

Ketua Panitia, H. Anwar Busro, mengucapkan terima kasih atas apresiasi para peserta. Ia berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menjadi lebih baik lagi.

Ketua TBM Ratu Bagus, Ratu Nijmah Salamah, S.IP., M.Si., menegaskan bahwa kegiatan literasi seperti Ngewiyak Budaya harus terus diadakan. Sebab, masyarakat Banten masih tergolong mengalami darurat literasi. Melalui Ngewiyak Budaya, diharapkan literasi meningkat dan turut mencerdaskan bangsa menjadi mandiri, kreatif, cerdas, dan berakhlak mulia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *