Pertemuan dan komunikasi dengan alumni dari berbagai profesi membuka peluang bagi SALUNI untuk membangun peta potensi alumni, memperluas jejaring, serta menerjemahkan semangat “Akal Sehat, Pikiran Hebat, Karya Nyata” ke dalam program yang memberi manfaat.
Oleh: Akhwil, S.H. (Praktisi Hukum/Advokat & Alumni Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta Angkatan 1982)
Kota Tangerang, 02-10-2026, Watchnews.co.id
Kehadiran SAHABAT Alumni Universitas Bung Hatta (SALUNI Bung Hatta) memasuki tahapan yang menarik setelahgagasan pendiriannya mulai diikuti dengan komunikasi, silaturahmi, dan pertemuan dengan alumni serta berbagai jejaring masyarakat.
Perkembangan tersebut dapat menjadi modal awal bagi SALUNI untuk bergerak lebih jauh.Bukan hanya mempertemukan orang-orang yangpernah menempuh pendidikan di Universitas Bung Hatta, tetapi juga mulai mengenali kekuatan yang dimiliki para alumninya.
Alumni Universitas Bung Hatta saat ini tersebar dalam berbagai profesi dan bidang pengabdian. Ada yang berkiprah sebagai advokat dan praktisi hukum, akademisi, pengusaha, profesional perbankan, jurnalis, birokrat, anggota lembaga perwakilan, konsultan, praktisi industri, pekerja sosial, hingga mereka yang membangun karier di luar negeri.
Di balik keberagaman tersebut terdapat modal yang sangat besar: ilmu, pengalaman, kompetensi, jejaring, dan gagasan.
Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi itu dapat saling dipertemukan dan pada akhirnya memberikan manfaat.
SILATURAHMI SEBAGAI PINTU MASUK
Bagi sebuah jejaring alumni, silaturahmi mempunyai arti penting.
Namun silaturahmi dapat dikembangkan lebih jauh daripada sekadar pertemuandan dokumentasi bersama.
Pertemuan dengan seorang praktisi hukum, misalnya, dapat membuka jalan untuk mengenali jaringan alumni yang bergerak dalam profesi hukum.
Pertemuan dengan pengusaha dapat membuka peluang kerja sama, mentoring, dan pengembangan usaha.
Demikian pula komunikasi dengan akademisi dapat menjadi pintu masuk bagi kegiatan keilmuan dan penelitian, sementara alumni yang mempunyai pengalaman di pemerintahandan lembaga perwakilan dapat berbagi pengetahuan mengenai pelayanan publik, kepemimpinan, dan kebijakan.
Alumni yang berkarya di media dapat berbagi pengalaman mengenai jurnalistik, komunikasi,dan literasi informasi. Sementara alumni yang hidup dan bekerja di luar negeri dapat membuka perspektif serta jejaring internasional.
Karena itu, setiap pertemuan sesungguhnyadapat mempunyai nilai yang jauh lebih besar apabila dapat ditindaklanjuti secara sistematis.
Dari sinilah muncul sebuah alur sederhana:
BERTEMU → MENGENAL → MENCATAT → MENGHUBUNGKAN → BERKOLABORASI→ BERKARYA
MENGENALI POTENSI ALUMNI BUNG HATTA
Salah satu gagasan penting dalam programtindak lanjut SALUNI adalah membangun database alumni.
Database tersebut idealnya tidak hanya berisi nama, fakultas, angkatan, domisili, dan nomor kontak.
Ia dapat dikembangkan menjadi peta potensi alumni Universitas Bung Hatta.
Dengan pendekatan tersebut, SALUNI tidak hanya mengetahui siapa alumninya, tetapi juga mengetahui apa kompetensi mereka.
- Apa profesinya?
- Bidang apa yang dikuasainya?
- Pengalaman apa yang dimilikinya?
- Jejaring apa yang dapat dibangun?
- Pengetahuan apa yangbersedia dibagikannya?
- Dan pada bidang apa seorang alumniingin memberikan kontribusi?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah database dari sekadarkumpulan nama menjadi peta kekuatan alumni.
Tentu pengumpulan dan pemanfaatan data tersebut perlu dilakukan secara sukarela, proporsional, dan dengan tetap menghormati keamanan serta kerahasiaan informasi pribadi masing-masing alumni.
DARI DATABASE MENUJU JEJARING KOMPETENSI
Apabila pemetaan tersebut mulai terbentuk, SALUNI dapat mengembangkan jejaring berdasarkan profesi dan kompetensi.
Alumni bidang hukum, misalnya, dapat dipertemukan melalui jaringan profesionalyang berisi advokat, notaris, akademisi hukum, mediator, konsultan, maupun praktisi hukum lainnya.
Demikian pula pengusaha dan profesional bisnis dapat dipertemukan dalam jaringan usaha dan kewirausahaan.
Akademisi dan peneliti dapat membangun forum keilmuan.
Alumni media dan komunikasi dapat membangunjejaring komunikasi dan literasi media.
Alumni di bidang pemerintahan, pelayananpublik, dan lembaga perwakilan dapat menjadi sumber pengetahuan mengenai kepemimpinan dan kebijakan publik.
Begitu pula alumni bidang teknik, ekonomi, teknologi, pendidikan, kebudayaan, industri, serta diaspora dapat membangun ruang kolaborasinya masing-masing.
Forum seperti itu tidak selalu harus menjadi struktur organisasi baru.
Ia dapat tumbuh sebagai ruang pertemuan kompetensi sesuai kebutuhan alumni.
Dengan demikian, SALUNI tetap dapat bergeraksecara fleksibel tanpa kehilangan arah.
JEJARING BARU BERMAKNA KETIKA MENGHASILKAN MANFAAT
Besarnya sebuah jaringan alumni seharusnya tidak hanya dilihat dari jumlah orang yang terdaftar.
Jaringan memperoleh arti ketika mampu membuka kesempatan.
Seorang alumni senior dapat membagikan pengalaman kepada generasi yang lebih muda.
Seorang pengusaha dapat menjadi mentor bagi alumni yang sedang merintis usaha.
Profesional dapat membantu mahasiswa memahami dunia kerja sebelum merekameninggalkan kampus.
Akademisi dapat mempertemukan ilmu pengetahuan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Alumni di luar negeri dapat membukawawasan mengenai pendidikan, pekerjaan, teknologi, maupun peluang internasional.
Praktisi hukum dapat berkontribusi melalui pendidikan dan literasi hukum.
Praktisi media dapat berbagi kemampuan komunikasi dan literasi informasi.
Di sinilah kekuatan sebuah jaringan bekerja.
Bukan karena semua orang mempunyai profesiyang sama, melainkan karena perbedaan kompetensi dapat saling melengkapi.
MENTORING ALUMNI BISA MENJADI PROGRAM KONKRET
Salah satu program yang dapat dikembangkandari pemetaan tersebut adalah Mentor Alumni SALUNI.
Universitas Bung Hatta telah melahirkan alumni lintas generasi dengan pengalaman profesional yang panjang.
Pengalaman itu merupakan kekayaan yang tidak selalu dapat diperoleh dari buku atau ruang kuliah.
Bayangkan ketika mahasiswa Fakultas Hukum dan alumni muda dapat duduk bersama advokat, notaris, akademisi, atau praktisi hukum senior.
Demikian pula mahasiswa ekonomi bertemu bankir dan pengusaha; mahasiswa teknikbertemu praktisi industri; atau mereka yang ingin membangun karier internasional dapat berbicara langsung dengan alumniyang telah bekerja di luar negeri.
Pertemuannya tidak harus selalu berupa seminar besar.
Diskusi kecil yang terarah terkadang justrumemberikan manfaat yang lebih konkret.
Yang senior membagikan pengalaman, yang muda membawa energi dan perspektif baru. Keduanya dapat saling belajar.
ALUMNI DAN ALMAMATER PERLU SEMAKIN DEKAT
Pemetaan kompetensi alumni juga dapat memperkuat hubungan antara alumnidan Universitas Bung Hatta.
Alumni profesional dapat hadir sebagai dosen tamu atau mentor.
Pengusaha alumni dapat membuka kesempatan magang.
Profesional dapat memberikan pembekalan mengenai kebutuhan industri.
Praktisi hukum dapat berbagi pengalaman mengenai praktik profesi.
Jurnalis dapat memberikan literasi media.
Akademisi dan peneliti dapat membangun kolaborasi keilmuan.
Diaspora dapat membuka perspektifinternasional bagi mahasiswa.
Hubungan alumni dengan kampus akhirnya tidak hanya muncul ketika berlangsung reuni atau acara seremonial.
Ia menjadi hubungan yang hidup melaluitransfer pengetahuan, pengalaman, jejaring, dan kesempatan.
Bagi mahasiswa, manfaatnya sangat nyata.
Mereka dapat melihat bahwa keluarga besar Universitas Bung Hatta tidak berhenti di pintukampus setelah seseorang memperoleh ijazah.
JEJAK ALUMNI JUGA PERLU DI DOKUMENTASIKAN
Pertemuan dan komunikasi yang berkembang belakangan juga memperlihatkan satu hal lain: banyak alumni Universitas Bung Hatta mempunyai perjalanan yang menarik, tetapi belum seluruhnya terdokumentasikan dengan baik.
- Ada sejarah organisasi mahasiswa.
- Ada pengalaman membangun profesi.
- Ada perjalanan gerakan alumni.
- Ada kiprah sosial dan kemasyarakatan.
- Ada alumni yang mengabdi di daerah, tingkat nasional, maupun internasional.
Cerita-cerita tersebut merupakan bagian darimemori keluarga besar Universitas Bung Hatta.
SALUNI dapat mempertimbangkan program “Jejak Alumni Bung Hatta” untuk mendokumentasikan pengalaman lintas generasi melalui wawancara, profil, foto, arsip, dokumen, maupun catatan sejarah.
Tujuannya bukan sekadar menampilkan sosok.
Yang lebih penting adalah menemukan nilai, pengalaman, dan pembelajaran yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam konteks sejarah, dokumentasi tentu perlu dilakukan secara berimbang. Ingatan para pelaku merupakan sumber yangberharga, tetapi dokumen, arsip, pemberitaan pada masanya, dan perspektif pihak lain tetap penting untuk melengkapi gambaransuatu peristiwa.
MENGELOLA INFORMASI DENGAN AKAL SEHAT
Semakin besar sebuah jejaring, semakin besar pula arus informasi yang masuk.
Founder bertemu alumni.
EXCO memperoleh berbagai informasi.
Alumni menyampaikan gagasan.
Forum menghasilkan pemikiran.
Ada informasi mengenai peluang usaha, profesi, kegiatan sosial, persoalan hukum, kebijakan publik, hingga berbagaiperkembangan masyarakat.
Tidak seluruh informasi tersebut mempunyai karakter yang sama.
Ada informasi yang cukup untuk kebutuhan internal.
Ada yang dapat menjadi bahan database.
Ada yang dapat dikembangkan menjadi program.
Ada yang perlu diverifikasi.
Dan ada pula yang memang layakdisampaikan kepada publik.
Karena itu, salah satu budaya yang dapat dikembangkan SALUNI adalah:
informasi yang baik dicatat, informasi penting diverifikasi, informasi bermanfaat ditindaklanjuti, dan informasi sensitifdikelola secara bijaksana.
Dalam dunia jurnalistik dikenal prinsip verifikasi.
Dalam hukum dikenal kehati-hatian dalam menilai fakta dan bukti.
Dalam kehidupan sosial dikenal tabayyun.
Semua bertemu pada semangat yang sebenarnya sangat dekat dengan mottoSALUNI: Akal Sehat.
MENJADI RUMAH BAGI KEBERAGAMAN ALUMNI
Alumni Universitas Bung Hatta tentu mempunyailatar belakang dan pilihan kehidupan yang beragam.
Ada akademisi, profesional, pengusaha, advokat, jurnalis, birokrat, politisi, aktivis sosial, dan berbagai profesi lainnya.
Masing-masing juga dapat mempunyai pandangan yang berbeda mengenaiberbagai persoalan.
Keberagaman tersebut tidak perlu menjadi persoalan.
Justru di situlah ruang persahabatan diuji.
Aktivitas profesional seorang alumni tidak dengan sendirinya menjadi aktivitas SALUNI.
Pilihan politik seorang alumni juga tidakotomatis menjadi pilihan SALUNI.
Demikian pula kepentingan bisnis, perkara profesional, atau pandangan personalseseorang tidak serta-merta menjadi posisikelembagaan SALUNI.
Pemisahan tersebut penting agar SALUNI dapat tetap menjadi rumah bersama yang terbuka.
Berbeda profesi, tetap bersaudara. Berbeda pandangan, tetap bersahabat.
Falsafah Minangkabau mengenal ungkapan:
“Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakaik.”
Semangatnya relevan bagi sebuah ruang alumni: perbedaan dapat dibicarakan dengan kepala dingin, musyawarah, dan niat baik tanpa harus menghilangkan persaudaraan.
DARI PERTEMUAN MENUJU KARYA NYATA
SALUNI masih berada pada fase awal perjalanan.
Karena itu, tidak semua gagasan harus dikerjakan sekaligus.
Yang penting adalah membangun fondasi yang memungkinkan SALUNI berkembang secara sehat sesuai kebutuhan dan partisipasi alumninya.
Pertemuan-pertemuan yang dilakukan Founder dan alumni dapat menjadi pintu masuk.
Informasi yang terkumpul dapat menjadi pengetahuan.
Pengetahuan dapat membentukpeta kompetensi.
Peta kompetensi dapat mempertemukan jejaring.
Jejaring dapat menghasilkan kolaborasi.
Dan kolaborasi pada akhirnya diharapkan melahirkan karya.
Alurnya sederhana:
BERTEMU → MENGENAL → MENCATAT → MENGHUBUNGKAN → BERKOLABORASI→ BERKARYA
Jika proses tersebut dapat tumbuh secarakonsisten, ukuran keberhasilan SALUNI kelak tidak semata-mata terletak pada berapa banyak alumni yang terdaftar.
Pertanyaan yang lebih substantif adalah:
Berapa banyak alumni yang berhasil dipertemukan?
Berapa banyak pengalaman yang dapat diwariskan?
Berapa banyak mahasiswa dan alumni muda yang memperoleh mentor?
Berapa banyak kesempatan profesional dan usaha yang terbuka?
Berapa banyak gagasan yang berhasil diwujudkan?
Dan berapa banyak manfaat yang akhirnya dapat dirasakan alumni, almamater, serta masyarakat?
Di situlah semangat “Akal Sehat, Pikiran Hebat, Karya Nyata” menemukan bentuk konkretnya.
Akal Sehat diperlukan untuk membaca keadaan secara jernih.
Pikiran Hebat diperlukan untuk melahirkan gagasan dan menemukan jalan keluar.
Karya Nyata diperlukan agar gagasan tersebut tidak berhenti menjadi wacana.
Pada akhirnya, SALUNI tidak harus dibesarkan oleh siapa yang paling menonjol di dalamnya.
SALUNI akan menemukan maknanya dari seberapa banyak manfaat yang dapat dilahirkan melalui persaudaraan alumninya.
- Dari silaturahmi menuju jejaring.
- Dari jejaring menuju kolaborasi.
- Dari kolaborasi menuju pengabdian.
- Dan dari gagasan menuju karya nyata.
Untuk Alumni. Untuk Almamater. Untuk Masyarakat. Untuk Indonesia.
Penulis: Akhwil, S.H. (Praktisi Hukum/Advokat & Alumni Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta Angkatan 1982)
Sumber tulisan: Diolah dari gagasan dan Program Tindak Lanjut SALUNI Bung Hatta, informasi serta komunikasi yang berkembang dalam jejaring SALUNI, dan pandangan penulis mengenai pengembangan jejaring, tata kelola informasi, kolaborasi, serta pemberdayaan alumni Universitas Bung Hatta








