DLH Kota Tangerang menyebut perubahan hidrologi dan cuaca sebagai dugaan sementara penyebab ikan mengapung. Di tengah riwayat pencemaran, air menghitam, debit menyusut dan keluhan pelayanan air, hasil tersebut menjadi kabar penting, sekaligus membuka kebutuhan transparansi data yang lebih rinci.
Oleh: Akhwil, S.H. (Praktisi Hukum & Aktivis Tangerang Raya)
Kota Tangerang, 21-08-2026, Watchnews.co.id
Fenomena ratusan ikan yang terlihat seperti “mabuk”, bergerak tidak normal dan mengapung di permukaan Sungai Cisadane pada Kamis, 20 Agustus 2026, akhirnya memperoleh penjelasan awal dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang.
Kepala DLH Kota Tangerang, Yudi Pradana, mengatakan timnya telah turun ke lokasi melakukan pemantauan.
Hasil pemantauan yang disampaikan DLH menyebut kualitas air Sungai Cisadane masih memenuhi baku mutu sebagaimana mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Sementara fenomena ikan yang terlihat seperti kehilangan keseimbangan untuk sementara dikaitkan dengan kondisi hidrologi dan perubahan cuaca.
Menurut penjelasan DLH, Kota Tangerang sebelumnya mengalami periode panas cukup lama sebelum kemudian turun hujan pada malam hari dan Kamis siang, Penjelasan tersebut penting.
Tetapi dalam konteks rangkaian persoalan Cisadane sepanjang 2026, keterangan itu seharusnya menjadi awal dari transparansi ilmiah yang lebih lengkap, bukan akhir dari pertanyaan publik.
Sebab masyarakat kini membutuhkan jawaban bukan sekadar “Apakah memenuhi baku mutu?”
Melainkan juga, Apa yang diperiksa, di mana diperiksa, kapan sampel diambil, berapa hasil setiap parameternya, dan mengapa ikan dalam jumlah besar dapat menunjukkan perilaku abnormal apabila kondisi air dinyatakan masih memenuhi baku mutu?
DLH SUDAH TURUN, INI PERKEMBANGAN PENTING
Watchnews.co.id sebelumnya telah meminta konfirmasi kepada DLH Kota Tangerang terkait kondisi Cisadane.
Ketika itu, informasi awal yang diterima menyebut tim DLH menangani persoalan tersebut.
Kini jawaban menjadi lebih konkret.
DLH menyatakan tim telah turun ke area kejadian dan berdasarkan data pemantauan, kualitas air masih berada dalam ketentuan baku mutu PP Nomor 22 Tahun 2021.
Keterangan resmi tersebut harus ditempatkan secara proporsional.
Artinya, tidak tepat apabila fenomena ikan mengapung pada 20 Agustus langsung dinyatakan sebagai bukti terjadinya pencemaran baru, sepanjang belum terdapat hasil pemeriksaan yang membuktikannya.
Prinsip kehati-hatian jurnalistik mengharuskan fakta ini disampaikan kepada masyarakat.
Namun prinsip yang sama juga mengharuskan rangkaian kejadian sebelumnya tidak dihapus dari konteks.
SEBAB CISADANE MEMILIKI RIWAYAT PERSOALAN YANG NYATA
Pertanyaan masyarakat tidak lahir hanya karena sebuah video ikan mengapung.
Pada Februari 2026, aliran yang terhubung dengan DAS Cisadane pernah terdampak pencemaran setelah insiden kebakaran gudang pestisida di Tangerang Selatan. Dampaknya termasuk perubahan kondisi air dan kematian ikan.
Kemudian pada Juli 2026, perubahan warna air menjadi hitam kembali menjadi perhatian pemerintah.
Penelusuran DLHK Provinsi Banten ketika itu mengarah pada aliran hitam dari kawasan muara Kali Sabi sebelum bergerak menuju bagian hilir Cisadane. Pemerintah kemudian melakukan tindakan terhadap sejumlah kegiatan usaha yang diperiksa.
Pada Agustus, warga Selapajang, Kecamatan Neglasari, kembali mengeluhkan air Cisadane yang terlihat hitam dan berbau. Seorang warga yang sehari-hari berada di tepian sungai bahkan menyebut kondisi tersebut telah terlihat sekitar dua hingga tiga bulan.
Karena itu, ketika pada 20 Agustus muncul fenomena ratusan ikan seperti “mabuk”, kekhawatiran masyarakat terhadap pencemaran adalah sesuatu yang dapat dipahami.
Tetapi kekhawatiran tersebut tetap harus dibedakan dari kesimpulan ilmiah.
MEMENUHI BAKU MUTU BUKAN BERARTI PERTANYAAN SELESAI
Pernyataan DLH bahwa kualitas air masih memenuhi baku mutu merupakan informasi penting dan patut memberikan ketenangan kepada masyarakat.
Namun dari perspektif pengawasan lingkungan, istilah “memenuhi baku mutu” perlu diterjemahkan ke dalam data yang dapat dipahami publik.
PP Nomor 22 Tahun 2021 memiliki lampiran mengenai baku mutu air nasional dengan sejumlah parameter dan klasifikasi.
Karena itu terdapat beberapa informasi teknis yang penting untuk diketahui.
- Di titik mana sampel diambil?
- Berapa jumlah titik sampling?
- Jam berapa sampel diambil?Apakah pengambilan dilakukan ketika ikan sedang mengapung atau setelah fenomena mereda?
- Parameter apa saja yang diuji?
- Berapa nilai Dissolved Oxygen (DO) atau oksigen terlarut?
- Bagaimana nilai pH, temperatur, BOD, COD, TSS dan parameter lainnya?
- Dan kelas air mana yang digunakan DLH sebagai acuan pembanding?
Pertanyaan tersebut bukan bentuk ketidakpercayaan kepada DLH.
Justru publikasi data akan memperkuat pernyataan DLH sendiri bahwa kondisi air memenuhi baku mutu.
MENGAPA DO MENJADI SANGAT PENTING?
Fenomena ikan naik ke permukaan mempunyai hubungan erat dengan kondisi lingkungan tempat ikan hidup.
Salah satu parameter yang relevan adalah Dissolved Oxygen atau DO, yaitu jumlah oksigen yang terlarut di dalam air.
Ikan membutuhkan oksigen terlarut untuk bertahan hidup.
Dalam kondisi tertentu, perubahan temperatur, rendahnya debit, peningkatan bahan organik maupun perubahan karakter air setelah hujan dapat memengaruhi ketersediaan oksigen.
Karena itu penjelasan DLH mengenai faktor hidrologi dan perubahan cuaca secara ilmiah masuk akal untuk diteliti lebih lanjut.
Setelah periode panas panjang, hujan dapat membawa limpasan dari daratan dan saluran drainase menuju sungai serta mengubah temperatur, arus dan karakteristik air.
Tetapi untuk menentukan apa yang benar-benar terjadi di Cisadane pada waktu tersebut, angka hasil pengukuran jauh lebih kuat daripada dugaan semata.
Jika DO normal, data tersebut akan mempersempit kemungkinan penyebab.
Jika DO sempat turun pada waktu tertentu, hal itu dapat membantu menjelaskan perilaku ikan.
Ada Perbedaan antara “PENYEBAB SEMENTARA” DAN “PENYEBAB YANG TELAH TERBUKTI”
Kalimat DLH sendiri penting diperhatikan.
Penyebab ikan mabuk disebut “sementara” berkaitan dengan kondisi hidrologi dan perubahan cuaca.
Artinya, secara jurnalistik keterangan tersebut lebih tepat dipahami sebagai penjelasan atau dugaan awal berdasarkan kondisi yang diamati, bukan kesimpulan kausal final yang menutup kemungkinan faktor lain.
Karena itu, pemberitaan juga tidak seharusnya mengubahnya menjadi:
- “DLH memastikan ikan mabuk akibat cuaca.”
Formulasi yang lebih akurat adalah:
- “DLH menduga sementara fenomena ikan mabuk berkaitan dengan kondisi hidrologi dan perubahan cuaca, sementara hasil pemantauan kualitas air disebut masih memenuhi baku mutu.”
Perbedaan kalimat tersebut kecil secara bahasa, tetapi besar secara jurnalistik dan hukum.
PERNYATAAN WAHIDIN HALIM TETAP RELEVAN
Sebelumnya, anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem dari Dapil Banten III, Wahidin Halim, meminta agar air limbah dari pabrik-pabrik di sepanjang aliran Cisadane diperiksa.
Mantan Wali Kota Tangerang dan mantan Gubernur Banten itu juga menyoroti Kali Sabi dan kali-kali kecil lainnya yang bermuara ke Cisadane.
Keterangan terbaru DLH bahwa kualitas air pada pemantauan 20 Agustus masih memenuhi baku mutu tidak serta-merta membuat usulan pemeriksaan outlet industri kehilangan relevansi.
Keduanya menjawab pertanyaan berbeda, Pemantauan badan air menjawab:
- Bagaimana kondisi sungai pada titik dan waktu pemeriksaan?
Sedangkan pemeriksaan outlet industri menjawab:
- Apa yang dibuang suatu kegiatan usaha, berapa konsentrasinya, dan apakah memenuhi persyaratan?
Karena pencemaran dapat bersifat spasial dan temporal, pengawasan badan sungai dan pengawasan sumber pencemar idealnya berjalan bersamaan.
ARAHAN DIRUT PERUMDA TB KE BBWS KINI SEMAKIN PENTING
Direktur Utama Perumda Tirta Benteng Kota Tangerang sebelumnya juga memberikan tanggapan kepada Watchnews.co.id.
Untuk persoalan air baku dan kondisi Cisadane, Dirut Perumda TB menyarankan agar konfirmasi teknis diarahkan kepada petugas BBWS di Bendung 10 Pasar Baru, Kota Tangerang.
Arahan tersebut kini semakin relevan.
Jika DLH menjelaskan persoalan kualitas lingkungan, maka BBWS dapat memberikan perspektif mengenai hidrologi sungai.
- Berapa debit Cisadane sebelum fenomena terjadi?
- Berapa debit setelah hujan?
- Apakah terjadi perubahan muka air secara mendadak?
- Bagaimana pola bukaan atau pengelolaan Bendung 10?
- Apakah terjadi perubahan arus atau karakter hidrologi yang cukup signifikan untuk menjelaskan perilaku ikan?
Data tersebut dapat menguji dan memperkuat penjelasan mengenai faktor hidrologi.
PERUMDAM TKR SEBELUMNYA DEBIT BERPENGARUH TERHADAP AIR BAKU
Ada pula konteks lain yang tidak boleh dilepaskan.
Dalam keterangan resmi Humas PERUMDAM Tirta Kerta Raharja (TKR) yang sebelumnya diterima Watchnews.co.id, penurunan debit Sungai Cisadane disebut berdampak langsung terhadap ketersediaan air baku.
Minimnya curah hujan serta berkurangnya pasokan dari wilayah hulu Bogor berpotensi memperkecil volume air permukaan yang tersedia untuk diolah.
Ketika keterangan diberikan, kapasitas produksi PERUMDAM TKR disebut masih relatif aman karena posisi intake berada pada muka air yang stabil.
Mitigasi juga telah disiapkan, termasuk pemasangan ponton dan armada mobil tangki apabila terjadi gangguan distribusi.
PERUMDAM TKR bahkan telah mengingatkan kemungkinan tekanan air menurun sampai penghentian aliran sementara di sejumlah wilayah apabila kemarau semakin berat.
BAGAIMANA DENGAN KELUHAN AIR KERUH DAN ALIRAN MENGECIL?
Inilah bagian yang harus ditangani secara sangat hati-hati.
Terdapat informasi dari masyarakat di beberapa wilayah mengenai tekanan air yang mengecil, aliran yang pada waktu tertentu berhenti serta air yang terlihat keruh.
Namun sampai terdapat pemeriksaan teknis, tidak tepat menghubungkan keluhan tersebut secara langsung dengan fenomena ikan mabuk maupun dugaan pencemaran Cisadane.
Air keruh pada jaringan pelanggan dapat memiliki banyak penyebab.
Demikian pula tekanan air yang menurun.
Karena itu pengujian harus dilakukan sepanjang rantai pelayanan:
Cisadane → intake → IPA → reservoir → jaringan distribusi → sambungan pelanggan.
Jika air baku bermasalah tetapi air keluar IPA memenuhi standar, berarti proses pengolahan bekerja mengendalikan risiko.
Jika air keluar IPA memenuhi standar tetapi kualitas berubah pada jaringan pelanggan, penelusuran harus bergeser ke sistem distribusi.
Dan apabila semuanya memenuhi persyaratan, data tersebut perlu diumumkan agar masyarakat memperoleh kepastian.
JANGAN CAMPURKAN BAKU MUTU AIR SUNGAI DENGAN KUALITAS AIR YANG SAMPAI KE PELANGGAN
Hal ini sangat penting bagi edukasi publik.
Pernyataan bahwa air Sungai Cisadane memenuhi baku mutu lingkungan berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021 tidak identik dengan pernyataan bahwa air tersebut dapat langsung dikonsumsi masyarakat.
Air sungai merupakan air baku yang harus melalui proses pengolahan sebelum didistribusikan sebagai air minum melalui sistem penyediaan air minum.
Karena itu terdapat dua rezim pengujian yang perlu dibedakan.
DLH mengawasi kualitas lingkungan sesuai kewenangannya.
Sedangkan penyelenggara pelayanan air minum harus memastikan kualitas air hasil produksi dan distribusi memenuhi ketentuan kesehatan dan pelayanan air minum yang berlaku.
Pembedaan ini penting agar masyarakat tidak salah memahami istilah “memenuhi baku mutu.”
MOMENTUM MEMBUKA DASHBOARD KUALITAS CISADANE
Fenomena 20 Agustus justru dapat menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Tangerang untuk mengambil langkah progresif.
Mengapa hasil pemantauan Cisadane tidak dipublikasikan secara berkala dalam bentuk data yang mudah diakses masyarakat?
Misalnya:
- lokasi sampling;
- tanggal dan jam;
- pH;
- DO;
- BOD;
- COD;
- TSS;
- temperatur;
- parameter mikrobiologi;
serta parameter khusus berdasarkan risiko pencemaran di kawasan tersebut.
Data historis juga dapat ditampilkan sehingga masyarakat dapat melihat tren kualitas Cisadane dari bulan ke bulan.
Jika terjadi perubahan signifikan, publik dapat mengetahuinya.
Jika kondisi baik, pemerintah juga memiliki bukti transparan untuk menangkal informasi yang keliru.
Transparansi data adalah perlindungan terbaik bagi pemerintah sekaligus masyarakat.
TIGA INSTANSI, TIGA POTONGAN JAWABAN
Dari rangkaian konfirmasi yang dilakukan Watchnews.co.id, sebenarnya mulai terbentuk gambaran yang menarik.
DLH Kota Tangerang memberikan penjelasan mengenai kualitas air dan dugaan sementara penyebab ikan mabuk.
Dirut Perumda Tirta Benteng mengarahkan persoalan teknis air baku dan Cisadane kepada BBWS Bendung 10 Pasar Baru.
PERUMDAM TKR sebelumnya menjelaskan dampak penurunan debit terhadap ketersediaan air baku sekaligus langkah mitigasi pelayanan.
Masing-masing mempunyai potongan informasi.
Yang belum tersedia adalah satu gambaran terintegrasi, Dan justru itulah yang dibutuhkan masyarakat.
DARI POLEMIK MENUJU PEMBUKTIAN ILMIAH
Keterangan DLH patut diapresiasi karena pemerintah merespons fenomena yang menjadi perhatian masyarakat dan turun melakukan pemantauan.
Imbauan agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebabnya juga tepat.
Prinsip yang sama seharusnya berlaku kepada semua pihak.
Jangan buru-buru menyatakan pencemaran tanpa bukti.
Tetapi juga jangan buru-buru menutup kemungkinan pencemaran sebelum seluruh data relevan diperiksa.
- Sains bekerja dengan pengukuran.
- Hukum bekerja dengan pembuktian.
- Pers bekerja dengan verifikasi.
Ketiganya seharusnya bertemu pada satu titik: data yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.
CISADANE MEMBUTUHKAN JAWABAN YANG UTUH
Fenomena ikan “mabuk” mungkin berlangsung hanya beberapa jam.
Hujan mungkin kembali menaikkan debit, Warna air mungkin kembali terlihat normal.
Tetapi persoalan Cisadane tidak boleh ikut menghilang ketika fenomena viral selesai.
Riwayat pencemaran 2026 tetap perlu dievaluasi.
Outlet industri tetap perlu diawasi.
Anak-anak sungai seperti Kali Sabi tetap perlu diperiksa, Debit tetap perlu dimonitor.
Kualitas air baku tetap harus dijaga, dan kualitas air yang sampai kepada pelanggan tetap harus dipastikan.
Karena bagi masyarakat Tangerang Raya, pertanyaan akhirnya sangat sederhana:
- Apakah sumber air mereka benar-benar terlindungi?
DLH telah memberikan satu bagian jawaban berdasarkan pemantauannya, kualitas air pada fenomena 20 Agustus masih memenuhi baku mutu dan ikan yang terlihat mabuk sementara dikaitkan dengan kondisi hidrologi serta perubahan cuaca.
Sekarang publik membutuhkan bagian berikutnya:
buka angka hasil pengujiannya, jelaskan kondisi hidrologinya, periksa sumber-sumber pencemar, dan hubungkan seluruh data dari sungai sampai jaringan pelayanan air.
Dengan begitu masyarakat tidak perlu memilih antara percaya kepada dugaan atau percaya kepada pernyataan.
Masyarakat dapat percaya kepada data.
CATATAN REDAKSI
Tulisan ini disusun dalam rangka fungsi informasi, edukasi dan kontrol sosial pers. Pernyataan mengenai kemungkinan pencemaran, aktivitas industri maupun keterkaitan antara kondisi Sungai Cisadane dan gangguan pelayanan air tidak dimaksudkan sebagai kesimpulan mengenai kesalahan pihak tertentu sebelum terdapat hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Watchnews.co.id membuka ruang hak jawab, koreksi, klarifikasi dan penyampaian data dari Pemerintah Kota Tangerang, DLH Kota Tangerang, BBWS Ciliwung-Cisadane, Perumda Tirta Benteng, PERUMDAM TKR, pelaku usaha dan pihak terkait lainnya guna melengkapi informasi kepada masyarakat secara proporsional dan berimbang.
Editor & Pewarta: CHY/ML








